Label

Arab Pra Islam Bagian Kedua


Oleh Muhammad Husain Haekal

Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkan bersama  orang  Yaman  itu  -  yang  membawa surat – sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha  al Asyram salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia. Ia  memerintah  Yaman  ini  sampai  ia dibunuh  oleh  Abrahah yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abrahah inilah  yang  memimpin  pasukan  gajah,  dan  dia  yang kemudian  menyerbu  Mekah  guna  menghancurkan  Ka'bah  tetapi gagal.

Anak-anak Abraha  kemudian  menguasai  Yaman  dengan  tindakan sewenang-wenang.  Melihat  bencana  yang  begitu  lama menimpa penduduk, Saif bin Dhi Yazan  pergi  hendak  menemui  Maharaja Rumawi.  Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman.  Tetapi  karena adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi  permintaan  Saif  bin Dhi Yazan  itu.  Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan pergi  menemui  Nu'man  bin'l-Mundhir  selaku  Gubernur   yang diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.

Nu'man  dan  Saif  bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk dalam Ruangan  Resepsi (Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan bimasakti pada bagian tahta itu. Di tempat musim  dinginnya  bagian  ini dikelilingi  dengan  tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah sekali. Di tengah-tengah itu bergantungan  lampu-lampu kendil terbuat  daripada  perak  dan  emas dan diisi penuh dengan air tawar. Di atas tahta itulah  terletak  mahkotanya  yang  besar berhiaskan  batu  delima, kristal dan mutiara bertali emas dan perak, tergantung dengan rantai dari  emas  pula.  Ia  sendiri memakai  pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat itu akan merasa terpesona  oleh  kemegahannya.  Demikian  juga halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.

Kisra   menanyakan   maksud   kedatangannya  itu  dan  Saifpun bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?), salah seorang  keluarga  ningrat  Persia  yang paling berani. Persia telah  mendapat  kemenangan  dan  orang-orang  Abisinia  dapat diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72 tahun itu. Sejak  itulah  Yaman  berada  di  bawah  kekuasaan Persia, dan ketika Islam  lahir  seluruh  daerah  Arab  itu  berada  dalam naungan agama baru ini.

Akan  tetapi  orang-orang asing yang telah menguasai Yaman itu tidak langsung di bawah kekuasaan Raja  Persia.  Terutama  hal itu  terjadi  setelah  Syirawih  (Shiruya  Kavadh II) membunuh ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri  menduduki  takhta.  Ia membayangkan  -  dengan  pikirannya yang picik itu bahwa dunia dapat  dikendalikan  sekehendaknya dan bahwa   kerajaannya membantu  memenuhI  kehendaknya  yang sudah hanyut dalam hidup kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan  banyak  sekali  yang tidak  mendapat  perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya sendiri. Ia pergi memburu dalam  suatu  kemewahan  yang belum pernah   terjadi  Ia  berangkat  diiringi  oleh  pemuda-pemuda ningrat berpakaian merah, kuning  dan  lembayung,  dikelilingi oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau yang sudah dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak yang  membawa  wangi-wangian, oleh pengusir-pengusir lalat dan pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya dalam suasana musim semi  sekalipun  sebenarnya  dalam musim dingin yang berat, ia beserta rombongannya  duduk  di  atas  permadani  yang  lebar dilukis  dengan  lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami bunga-bungaan   aneka   warna,   dan   dilatarbelakangi   oleh semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna perak.

Tetapi    sungguhpun    Syirawih    begitu    jauh   mengikuti kesenangannya,  kerajaan  Persia  tetap  dapat  mempertahankan kemegahannya,  dan  tetap  merupakan  lawan yang kuat terhadap kekuasaan Bizantium dan penyebaran Kristen.  Sekalipun  dengan naik   tahtanya   Syirawih   ini   telah  mengurangi  kejayaan kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum  Muslimin memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.

Yaman  yang telah dijadikan gelanggang pertentangan sejak abad ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas yang dalam sekali dalam sejarah Semenanjung Arab dari segi pembagian penduduknya.  Disebutkan  bahwa  Bendungan  Ma'rib  yang  oleh suku-bangsa   Himyar   telah   dimanfaatkan  untuk  keuntungan negerinya, telah hancur pula dilanda banjir besar.  Disebabkan oleh  adanya  pertentangan  yang  terus-menerus  itu, lalailah mereka  yang  harus  selalu   mengawasi   dan   memeliharanya. Bendungan  itu  lapuk  dan  tidak  tahan  lagi menahan banjir. Dikatakan juga, bahwa setelah  Rumawi  melihat  Yaman  menjadi pusat  pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa perdagangannya  terancam  karena   pertentangan   itu,   ia pun menyiapkan  armadanya  menyeberangi  Laut Merah - antara Mesir dengan  negeri-negeri  Timur  yang   jauh   -   guna   menarik perdagangan  yang  dibutuhkan  oleh negerinya. Dengan demikian tidak perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.

Mengenai peristiwanya, ahli-ahli  sejarah  sependapat,  tetapi mengenai  sebab  terjadinya  peristiwa  itu  mereka  berlainan pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di Yaman  ke  Utara.  Semua  mereka sependapat tentang kepindahan ini,  sekalipun  sebagian  menghubungkannya   dengan   sepinya beberapa kota di Yaman karena mundurnya perdagangan yang biasa melalui tempat  itu.  Yang  lain  menghubung-hubungkan  kepada rusaknya   bendungan   Ma'rib,   sehingga   banyak  di  antara kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun juga  kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan Yaman jadi  berhubungan  dengan  negeri-negeri  Arab  lainnya, suatu  hubungan keturunan dan percampuran yang sampai sekarang masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.

Apabila sistem politik di Yaman sudah  menjadi  kacau  seperti yang  dapat  kita  saksikan, yang disebabkan oleh keadaan yang menimpa  negeri  itu  serta  dijadikannya  tempat  itu   medan pertarungan,  maka  struktur  politik serupa itu tidak dikenal pada beberapa  negeri  Semenanjung  Arab  lainnya  waktu  itu. Segala  macam  sistem yang dapat dianggap sebagai suatu system politik  seperti  pengertian  kita   sekarang   atau   seperti pengertian  negara-negara  yang  sudah  maju pada masa itu, di daerah-daerah  seperti  Tihama,  Hijaz,  Najd  dan   sepanjang dataran  luas  yang  meliputi  negeri-negeri  Arab, pengertian demikian itu belum dikenal. Anak negeri pada masa  itu  bahkan sampai  sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa di kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Yang   mereka   kenal   hanyalah   hidup   mengembara  selalu, berpindah-pindah mencari padang rumput dan menuruti  keinginan hatinya.   Mereka   tidak  mengenal  hidup  cara  lain  selain pengembaraan itu.

Seperti  juga  ditempat-tempat  lain,  disinipun  dasar  hidup pengembaraan  itu  ialah  kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu peraturan  atau tata-cara  seperti  yang  kita  kenal.  Mereka  hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga  dan  kebebasan  kabilah yang  penuh.  Sedang  orang  kota,  atas  nama tata-tertib mau mengalah  dan  membuang  sebagian  kemerdekaan  mereka   untuk kepentingan  masyarakat  dan  penguasa,  sebagai  imbalan atas ketenangan  dan  kemewahan  hidup   mereka.   Sedang   seorang pengembara  tidak  pedulikan  kemewahan,  tidak  betah  dengan ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apapun  - seperti  kekayaan  yang  menjadi  harapan  orang kota – selain kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup  dalam  persamaan yang    penuh    dengan    anggota-anggota   kabilahnya   atau kabilah-kabilah  lain  sesamanya.  Dasar kehidupannya   ialah seperti  makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan terus sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang  sudah ditanamkan dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.

Oleh  karena  itu,  kaum  pengembara  tidak  menyukai tindakan ketidak adilan  yang  ditimpakan  kepada  mereka.  Mereka  mau melawannya   mati-matian,   dan  kalau  tidak  dapat  melawan, ditinggalkannya  tempat  tinggal  mereka   itu,   dan   mereka mengembara lagi ke seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus demikian.

Juga itu pula sebabnya, perang adalah jalan yang paling  mudah bagi  kabilah-kabilah  ini bila harus juga timbul perselisihan yang tidak mudah  diselesaikan  dengan  cara  yang  terhormat. Karena  bawaan  itu  juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian besar kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri,  keberanian, suka   tolong-menolong,   melindungi   tetangga   serta  sikap memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya. Sifat-sifat ini akan makin   kuat   apabila   semakin  dekat  ia  kepada  kehidupan pedalaman, dan akan makin  hilang  apabila  semakin  dekat  ia kepada kehidupan kota.

Seperti kita sebutkan, karena faktor-faktor ekonomi juga, baik Rumawi maupun Persia, hanya merasa tertarik kepada Yaman  saja dari  antara jazirah lainnya yang memang tidak mau tunduk itu. Mereka lebih  suka  meninggalkan  tanah  air  daripada  tunduk kepada  perintah.  Baik  pribadi-pribadi  atau kabilah-kabilah tidak akan taat kepada  peraturan  apapun  yang  berlaku  atau kepada lembaga apapun yang berkuasa.

Sifat-sifat  pengembaraan  itu  cukup mempengaruhi daerah yang kecil-kecil yang tumbuh  di  sekitar  jaziarah  karena  adanya perdagangan  para  kafilah, seperti yang sudah kita terangkan. Daerah-daerah ini dipakai oleh para  pedagang  sebagai  tempat beristirahat  sesudah  perjalanan  yang  begitu meletihkan. Di situ mereka bertemu dengan tempat-tempat  pemujaan  sang  dewa guna  memperoleh  keselamatan  bagi  mereka  serta  menjauhkan marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan  mereka selamat sampai di tempat tujuan.

Kota-kota  seperti  Mekah, Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung atau   gurun   pasir,   terpengaruh   juga   oleh  sifat-sifat pengembaraan  demikian  itu.  Dalam  susunan   kabilah   serta cabang-cabangnya,    perangai   hidup,   adat-istiadat   serta kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu  cara  hidup  yang menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.

Lingkungan  masyarakat  dalam  alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan sosial  yang  ada  pada  mereka,  mempunyai pengaruh   yang   sama   terhadap  cara  beragamanya.  Melihat hubungannya dengan agama Kristen  Rumawi  dan  Majusi  Persia, adakah  Yaman  dapat  terpengaruh  oleh  kedua  agama  itu dan sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut  di  jazirah  Arab lainnya?  Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada  pada  masa  itu sama  giatnya  seperti  yang  sekarang  dalam mempropagandakan agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta  cara  hidup kaum  pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia  merasakan adanya  wujud  yang  tak  terbatas  dalam segala bentuknya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara  dirinya  dengan alam  dengan  ketak-terbatasannya  itu. Sedang bagi orang kota ketak-terbatasan  itu   sudah   tertutup   oleh   kesibukannya hari-hari,   oleh   adanya  perlindungan  masyarakat  terhadap dirinya  sebagai  imbalan  atas  kebebasannya  yang  diberikan sebagian  kepada  masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada undang-undang  penguasa  supaya  memperoleh  jaminan  dan  hak perlindungan.   Hal  ini  menyebabkannya  tidak  merasa  perlu berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan  kekuatan alam  yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan jiwa  dengan  unsur-unsur alam yang di sekitarnya jadi berkurang.

Dalam  keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan dalam  menyebarkan  ajaran  agamanya  itu?  Barangkali soalnya hanya akan sampai di  situ  saja  kalau  tidak  karena  adanya soal-soal   lain  yang  menyebabkan  negeri-negeri  Arab  itu, termasuk  Yaman,   tetap   bertahan   pada   paganisma   agama nenek-moyangnya,  dan  hanya  beberapa  kabilah  saja yang mau menerima agama Kristen.

Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu  - seperti  yang  sudah  kita saksikan - berpusat di sekitar Laut Tengah  dan  Laut  Merah.  Agama-agama  Kristen   dan   Yahudi bertetangga  begitu  dekat  sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak  memperlihatkan permusuhan  yang  berarti,  juga  tidak memperlihatkan  persahabatan  yang  berarti  pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut adanya pembangkangan  dan  perlawanan  Nabi  Isa kepada agama mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja  mau  membendung  arus agama Kristen yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih  berlindung  dibawah  panji  Imperium  Rumawi  yang membentang luas itu.

Arab Pra-Islam

Oleh Muhammad Husain Haekal

Ketika itu ada dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan, dan kedua  kekuatan  yang sedang  berhadap-hadapan  itu ialah: kekuatan Kristen dan kekuatan  Majusi,  kekuatan  Barat berhadapan   dengan  kekuatan  Timur.  Bersamaan  dengan  itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah  pengaruh  kedua kekuatan  itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab.  Kedua  kekuatan  itu  masing-masing  mempunyai   hasrat ekspansi   dan   penjajahan.  Pemuka-pemuka  kedua  agama  itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke   atas   kepercayaan   agama  lain  yang  sudah  dianutnya. Sungguhpun demikian jazirah itu  tetap  seperti  sebuah  oasis yang  kekar  tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat  di  bagian  pinggir  saja,  juga  tak  sampai terjamah  oleh  penyebaran  agama-agama  Masehi  atau  Majusi, kecuali sebagian kecil  saja  pada  beberapa  kabilah.  Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim  jazirah  itu  serta  pengaruh  keduanya terhadap  kehidupan  penduduknya,  dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak  parallelogram.  Ke sebelah  utara  Palestina  dan  padang  Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk  Persia,  ke sebelah  selatan  Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah  ini  dilingkungi  lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia. Akan  tetapi  bukan rintangan  itu saja yang telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan dan  penyebaran  agama,  melainkan  juga karena  jaraknya  yang berjauh-jauhan. Panjang semenanjung itu melebihi seribu kilometer, demikian juga luasnya sampai seribu kilometer  pula. Dan yang lebih-lebih lagi melindunginya ialah tandusnya daerah ini yang luar  biasa  hingga  semua  penjajah merasa  enggan melihatnya. Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungaipun tak ada.  Musim  hujan  yang  akan  dapat  dijadikan pegangan  dalam  mengatur  sesuatu  usaha  juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak  di  sebelah  selatan  yang sangat  subur  tanahnya  dan cukup banyak hujan turun, wilayah Arab  lainnya  terdiri  dari  gunung-gunung,  dataran  tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang akan dapat tinggal  menetap  atau  akan  memperoleh  kemajuan. Samasekali  hidup  di  daerah  itu  tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus  dengan  mempergunakan  unta  sebagai kapalnya  di  tengah-tengah  lautan  padang  pasir itu, sambil mencari padang hijau  untuk  makanan  ternaknya,  beristirahat sebentar  sambil  menunggu ternak itu menghabiskan makanannya, sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru di tempat lain.  Tempat-tempat  beternak  yang  dicari  oleh orang-orang badwi jazirah biasanya di sekitar mata air yang menyumber dari bekas air hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang  terserak di  sana-sini  dalam  wahah-wahah  yang berada di sekitar mata air.

Sudah wajar sekali dalam wilayah demikian  itu,  yang  seperti Sahara  Afrika  Raya yang luas, tak ada orang yang dapat hidup menetap, dan cara  hidup  manusia  yang  biasapun  tidak  pula dikenal.  Juga  sudah  biasa bila orang yang tinggal di daerah itu tidak lebih maksudnya  hanya  sekadar  menjelajahinya  dan menyelamatkan  diri  saja,  kecuali  di tempat-tempat yang tak seberapa, yang masih ditumbuhi  rumput  dan  tempat  beternak. Juga sudah sewajarnya pula tempat-tempat itu tetap tak dikenal karena  sedikitnya  orang  yang   mau   mengembara   dan   mau menjelajahi  daerah  itu.  Praktis  orang  zaman  dahulu tidak mengenal jazirah Arab, selain Yaman. Hanya saja  letaknya  itu telah  dapat menyelamatkan dari pengasingan dan penghuninyapun dapat bertahan diri.

Pada masa itu orang belum merasa begitu aman mengarungi lautan guna  mengangkut  barang  dagangan  atau mengadakan pelayaran. Dari  peribahasa  Arab  yang   dapat   kita   lihat   sekarang menunjukkan,   bahwa  ketakutan  orang  menghadapi  laut  sama seperti dalam menghadapi maut. Tetapi, bagaimanapun juga untuk mengangkut  barang  dagangan  itu  harus ada jalan lain selain mengarungi bahaya  maut  itu.  Yang  paling  penting  transport perdagangan  masa  itu  ialah  antara  Timur dan Barat: antara Rumawi dan sekitarnya, serta  India  dan  sekitarnya.  Jazirah Arab  masa  itu  merupakan daerah lalu-lintas perdagangan yang diseberanginya melalui Mesir atau melalui Teluk Persia,  lewat terusan  yang  terletak di mulut Teluk Persia itu. Sudah tentu wajar sekali bilamana  penduduk  pedalaman  jazirah  Arab  itu menjadi  raja  sahara,  sama halnya seperti pelaut-pelaut pada masa-masa berikutnya yang daerahnya lebih banyak dikuasai  air daripada  daratan,  menjadi  raja  laut.  Dan sudah wajar pula bilamana raja-raja padang pasir itu mengenal seluk-beluk jalan para  kafilah  sampai  ke  tempat-tempat  yang berbahaya, sama halnya seperti para pelaut, mereka sudah mengenal  garis-garis perjalanan  kapal  sampai  sejauh-jauhnya.  "Jalan kafilah itu bukan  dibiarkan  begitu  saja,"  kata Heeren,  "tetapi   sudah menjadi tempat yang tetap mereka lalui. Di daerah padang pasir yang luas itu, yang biasa  dilalui  oleh  para  kafilah,  alam telah   memberikan   tempat-tempat   tertentu  kepada  mereka, terpencar-pencar di daerah tandus, yang kelak  menjadi  tempat mereka   beristirahat.   Di   tempat  itu,  di  bawah  naungan pohon-pohon kurma dan di  tepi  air  tawar  yang  mengalir  di sekitarnya,  seorang  pedagang  dengan binatang bebannya dapat menghilangkan haus dahaga sesudah perjalanan  yang  melelahkan itu.  Tempat-tempat  peristirahatan  itu  juga  telah  menjadi gudang perdagangan mereka,  dan  yang  sebagian  lagi  dipakai sebagai  tempat  penyembahan,  tempat  ia meminta perlindungan atas barang dagangannya atau meminta pertolongan  dari  tempat itu."

Lingkungan  jazirah  itu  penuh  dengan  jalan  kafilah.  Yang penting di antaranya ada dua. Yang  sebuah  berbatasan  dengan Teluk  Persia,  Sungai  Dijla,  bertemu dengan padang Syam dan Palestina. Pantas jugalah kalau  batas  daerah-daerah  sebelah timur yang berdekatan itu diberi nama Jalan Timur. Sedang yang sebuah lagi berbatasan  dengan  Laut  Merah;  dan  karena  itu diberi  nama  Jalan  Barat.  Melalui dua jalan inilah produksi barang-barang di Barat diangkut ke Timur dan barang-barang  di Timur  diangkut ke Barat. Dengan demikian daerah pedalaman itu mendapatkan kemakmurannya.

Akan tetapi itu tidak menambah pengetahuan pihak Barat tentang negeri-negeri  yang  telah  dilalui  perdagangan  mereka  itu. Karena sukarnya menempuh daerah-daerah itu, baik  pihak  Barat maupun  pihak  Timur  sedikit  sekali yang mau mengarunginya -kecuali bagi mereka  yang  sudah  biasa  sejak  masa  mudanya. Sedang    mereka    yang    berani    secara   untung-untungan mempertaruhkan nyawa banyak  yang  hilang  secara  sia-sia  di tengah-tengah  padang  tandus itu. Bagi orang yang sudah biasa hidup mewah di kota, tidak akan tahan  menempuh  gunung-gunung tandus  yang  memisahkan  Tihama dari pantai Laut Merah dengan suatu daerah yang sempit itu. Kalaupun pada waktu itu ada juga orang  yang  sampai  ke  tempat tersebut - yang hanya mengenal unta  sebagai  kendaraan  -  ia   akan   mendaki   celah-celah pegunungan  yang  akhirnya  akan menyeberang sampai ke dataran tinggi Najd yang penuh dengan padang pasir. Orang  yang  sudah biasa  hidup  dalam  sistem  politik  yang  teratur  dan dapat menjamin segala kepuasannya akan  terasa  berat  sekali  hidup dalam   suasana  pedalaman  yang  tidak  mengenal  tata-tertib kenegaraan.  Setiap  kabilah,  atau  setiap  keluarga,  bahkan setiap  pribadipun  tidak  mempunyai  suatu  sistiem  hubungan dengan pihak lain selain ikatan  keluarga  atau  kabilah  atau ikatan  sumpah  setia  kawan  atau  sistem jiwar (perlindungan bertetangga) yang biasa diminta oleh pihak yang  lemah  kepada yang lebih kuat.

Pada  setiap  zaman  tata-hidup  bangsa-bangsa  pedalaman  itu memang berbeda dengan kehidupan di kota-kota.  Ia  sudah  puas dengan   cara  hidup  saling  mengadakan  pembalasan,  melawan permusuhan dengan permusuhan, menindas yang lemah  yang  tidak mempunyai   pelindung.   Keadaan  semacam  ini  tidak  menarik perhatian orang untuk membuat penyelidikan yang lebih dalam.

Oleh karena itu daerah Semenanjung  ini  tetap  tidak  dikenal dunia  pada waktu itu. Dan barulah kemudian - sesudah Muhammad s.a.w.  lahir  di  tempat  tersebut  -  orang  mulai  mengenal sejarahnya  dari  berita-berita  yang dibawa orang dari tempat itu, dan daerah yang tadinya samasekali tertutup itu  sekarang sudah mulai dikenal dunia.

Tak  ada  yang  dikenal  dunia  tentang negeri-negeri Arab itu selain Yaman dan tetangga-tetangganya yang  berbatasan  dengan Teluk  Persia.  Hal  ini  bukan  karena  hanya disebabkan oleh adanya perbatasan Teluk Persia dan  Samudera  Indonesia  saja, tetapi   lebih-lebih   disebabkan   oleh   -   tidak   seperti jazirah-jazirah lain - gurun sahara yang tandus.  Dunia  tidak tertarik,  negara  yang  akan  bersahabatpun tidak merasa akan mendapat  keuntungan  dan  pihak  penjajah  juga  tidak  punya kepentingan.  Sebaliknya,  daerah  Yaman tanahnya subur, hujan turun secara teratur pada  setiap  musim.  Ia  menjadi  negeri peradaban   yang   kuat,  dengan  kota-kota  yang  makmur  dan tempat-tempat beribadat yang  kuat  sepanjang  masa.  Penduduk jazirah ini terdiri dari suku bangsa Himyar, suatu suku bangsa yang cerdas dan berpengetahuan luas. Air hujan yang  menyirami bumi ini mengalir habis menyusuri tanah terjal sampai ke laut. Mereka membuat Bendungan Ma'rib yang dapat menampung arus  air hujan sesuai dengan syarat-syarat peradaban yang berlaku.

Sebelum  di  bangunnya  bendungan  ini  , air hujan yang deras terjun dari pegunungan Yaman yang tinggi-tinggi itu,  menyusur turun  ke  lembah-lembah  yang  terletak di sebelah timur kota Ma'rib. Mula-mula  air  turun  melalui  celah-celah  dua  buah gunung yang terletak di kanan-kiri lembah ini, memisahkan satu sama lain seluas kira-kira 400 meter. Apabila sudah sampai  di Ma'rib air itu menyebar ke dalam lembah demikian rupa sehingga hilang terserap seperti  di  bendungan-bendungan  Hulu  Sungai Nil.  Berkat pengetahuan dan kecerdasan yang ada pada penduduk Yaman itu, mereka membangun sebuah bendungan, yaitu  Bendungan Ma'rib.  Bendungan  ini dibangun daripada batu di ujung lembah yang sempit,  lalu  dibuatnya  celah-celah  guna  memungkinkan adanya  distribusi  air ke tempat-tempat yang mereka kehendaki dan dengan demikian tanah mereka bertambah subur.

Peninggalan-peninggalan peradaban Himyar di Yaman yang  pernah diselidiki  -  dan  sampai  sekarang  penyelidikan  itu  masih diteruskan -menunjukkan, bahwa  peradaban  mereka  pada  suatu saat  memang  telah  mencapai tingkat yang tinggi sekali, juga sejarahpun  menunjukkan  bahwa  Yaman  pernah  pula  mengalami bencana.

Sungguhpun  begitu  peradaban  yang  dihasilkan dari kesuburan negerinya serta penduduknya yang menetap menimbulkan  gangguan juga dalam lingkungan jazirah itu. Raja-raja Yaman kadang dari keluarga Himyar yang sudah  turun-temurun,  kadang  juga  dari kalangan  rakyat Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari berkuasa. Dhu Nuwas sendiri condong sekali kepada  agama  Musa (Yudaisma),  dan tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya.  Ia  belajar  agama  ini  dari  orang-orang Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas inilah yang disebut-sebut oleh  ahli-ahli  sejarah,  yang  termasuk  dalam kisah   "orang-orang  yang  membuat  parit,"  dan  menyebabkan turunnya  ayat:  "Binasalah  orang-orang  yang  telah  membuat parit.  Api  yang  penuh  bahan  bakar. Ketika mereka duduk di tempat itu. Dan apa yang  dilakukan  orang-orang  beriman  itu mereka  menyaksikan.  Mereka  menyiksa  orang-orang  itu hanya karena  mereka  beriman  kepada  Allah  Yang  Maha  Mulia  dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8)

Cerita  ini  ringkasnya  ialah bahwa ada seorang pengikut Nabi Isa yang saleh bernama  Phemion  telah  pindah  dari  Kerajaan Rumawi  ke Najran. Karena orang ini baik sekali, penduduk kota itu banyak yang mengikuti  jejaknya,  sehingga  jumlah  mereka makin  lama  makin  bertambah  juga. Setelah berita itu sampai kepada Dhu Nuwas, ia pergi ke  Najran  dan  dimintanya  kepada penduduk  supaya  mereka  masuk agama Yahudi, kalau tidak akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka  digalilah  sebuah  parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati karena api, dibunuhnya kemudian dengan pedang  atau  dibikin  cacat.  Menurut  beberapa  buku sejarah korban pembunuhan itu  mencapai  duapuluh  ribu  orang.  Salah seorang di antaranya dapat lolos dari maut dan dari tangan Dhu Nuwas,  ia  lari  ke  Rumawi  dan   meminta   bantuan   Kaisar Yustinianus  atas  perbuatan  Dhu Nuwas itu. Oleh karena letak Kerajaan Rumawi ini jauh dari Yaman, Kaisar itu menulis  surat kepada  Najasyi  (Negus) supaya mengadakan pembalasan terhadap raja Yaman. Pada waktu itu [abad ke-6] Abisinia yang  dipimpin oleh   Najasyi   sedang   berada  dalam  puncak  kemegahannya. Perdagangan yang luas melalui laut disertai oleh  armada  yang kuat  dapat  menancapkan  pengaruhnya  sampai sejauh-jauhnya. Pada waktu itu ia menjadi sekutu  Imperium  Rumawi  Timur  dan yang  memegang  panji  Kristen  di Laut Merah, sedang Kerajaan Rumawi Timur sendiri menguasainya di bagian Laut Tengah.