Label

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Cinta pada Pandangan Pertama




Puisi Wislawa Szymborska

Dua jiwa telah percaya
bahwa satu ikatan rasa telah merengkuh mereka.
Keindahan adalah sebuah kepastian
tapi ketidakpastian, ia jauh lebih indah.

Karena sebelumnya mereka tak mengenal satu sama lain,
mereka menduga bahwa tiada yang terjadi diantara mereka.
Lalu bagaimana dengan dua sisi jalanan,
ratusan anak tangga, dan lorong demi lorong
dimana mereka saling berpapasan jauh di masa sebelumnya?

Aku ingin bertanya pada mereka
ingatkah pada suatu ketika –mungkin saja
saat melintasi pintu yang berputar
wajah mereka saling bersua?
sebuah “permisi” di tengah keramaian
atau seruan “salah sambung” pada sebuah panggilan.
Namun aku tahu jawaban mereka:
tidak, mereka tak ingat itu semua.

Mereka akan sangat-sangat takjub
untuk mengerti bahwa sekian lamanya
pintu kementakan telah bermain-main dengan mereka.

Sang peluang belum sepenuhnya siap
untuk menjadi takdir bagi mereka
ia muncul sesaat, kemudian mundur seketika
menghalangi jalan mereka
dan seraya tertawa nakal
ia melompat ke tepi masa

Selalu ada tanda demi tanda, isyarat demi isyarat:
tapi apalah artinya jika mereka tiada terbaca.
Bisa jadi tiga tahun yang t’lah lalu
atau mungkin kemarin Rabu
secarik selebaran tertiup bayu
dari bahu sampai ke bahu?

Ada yang lenyap dan ada yang tertemu.
Siapa yang tahu jika ia adalah sebuah bola
di rimbunnya semak masa kanak-kanak.

Di antara puluhan bel dan gagang pintu
dimana ratusan jejak sentuhan menumpuk saling bertemu
Pun ketika koper mereka berdampingan di ruang bagasi.
Mungkin mereka saling berbagi mimpi di malam hari
namun –sayangnya- terhapuskan di kala pagi.

Setiap mula
adalah keberlanjutan nan niscaya
dan lauhul mahfudz
tak akan pernah sepenuhnya terbuka.

Diterjemahkan dari versi Ingris oleh M. Syahid Sundana

Puisi as Syafi’i untuk Imam Husain as



Tuanku (Imam Husain as), penghulu orang-orang merdeka
–wahai mu’jizat sejarah, wahai rahasia wujud
Wahai tuan yang menuntaskan kehausan jasad
–dahaga hati. Wahai tuan telah kau-korbankan jiwamu
demi syari’at yang agung ini, demi kemanusiaan.

Tuanku, sungguh orang-orang yang berduka atasmu
sangat merindu bertemu denganmu –mengharap
karamahmu. Engkau yang pemurah, dermawan dan mulia.
Sungguh engkau telah berderma dengan jiwamu
–betapa sangat mahalnya berkorban dengan keluargamu,
betapa mulia mereka.

Dengan potongan hatimu, wahai betapa pedih hatimu
–demi siapa itu wahai tuanku? Bukankah demi untuk
membebaskan makhluk (manusia) ini. Memang benar
engkau telah menazarkan jiwamu sebagai kurban
untuk memberi kehidupan kepada semua manusia.
Engkau rela kehausan demi memberi minum yang lain

–merelakan keluargamu terbelenggu rantai
padahal mereka adalah orang-orang merdeka.
Semua itu demi membebaskan para pecintamu
dengan mereka. Bahkan membebaskan belenggu
semua anak Adam yang tertawan.
Tuanku (Imam Husain as), wahai mata kehidupan

–wahai simbol kemuliaan, belum pernah
kami menyimpan kebaikan selain kebaikanmu
yang akan datang. Kemuliaanmu bagi jiwa-jiwa
yang berduka ini, yaitu syafa’atmu. Kepadamu,
wahai tuanku, kami persembahkan milik kami,
dan kami berharap engkau menerimanya.

Sumber: Dr. Abdurrahman Ghifari,
Qabs min Karamat al Husain, hal. 11-12



Tragedi Putranya Fatimah Azzahra



Di Karbala, dalam sengatan cuaca dan dahaga,
cucu Muhammad al Mustafa
bertarung dengan maut sebatang kara.  

Di gurun Nainawa itu, beberapa langkah
dari sungai Eufrat, senja pun hampir tuntas
dengan warna merah yang semerah darah,

mengucur dan tumpah.
Dalam keadaan kehausan, sang cucu Muhammad
al Mustafa, tetap mengayunkan pedang

menghadapi para penyerang yang brutal.
Inilah kisah Husain putra Haidar,
buah hati Fatimah,

permatanya Muhammad al Mustafa.
Ketika menjelang ajalnya
sebelum terpenggal jadi syuhada,

panah-panah menyerbu tubuhnya
bagai deras hujan
yang menghantam semak belukar.

Di gurun Nainawa itu, ia senantiasa bangkit
meski kadang jatuh dan tersungkur,
seumpana al Asad dan seekor Leopard

yang bertarung sendirian
menghadapi para Jackal
yang kelaparan –dan tak punya belas kasihan.

Sulaiman Djaya