Label

Puisi-puisi di Majalah Sastra Horison Edisi Oktober 2014



Munajatku

Aku tiba pada-Mu
seperti senja yang ranum.
Kepakan para unggas adalah perumpamaan
tentang bagaimana aku
harus menulis do’a

dengan sungguh-sungguh.

Sebelum adzan berkumandang, Tuhanku,
aku tak pernah tahu
sujud seperti apa
yang dapat menggali rindu.
Aku bahkan acapkali tersesat

menjelajahi semestaku sendiri
seperti sepi nyala mungil
di meja belajar masa kanakku.
Kata-kata di dalam hatiku
senantiasa mencari

kekasih yang mau mengerti.
Jika minyak lampu itu telah habis,
Tuhanku, anugerahkanlah mautku
maut sang perindu.
Mungkin seperti sebuah lagu

yang pernah didaraskan ibuku.

(2014)


Jendela

Ada sebuah pintu yang terbuat dari udara:
daun-daun dan gerimis adalah kesepian
yang teramat kagum pada lampu.

Kau tahu, tahun-tahun telah mencipta batu
ketika hujan baru saja beranjak
dari gugusan rambutmu.

Di sebentang pematang, di siang yang reda
yang menyimpan jejak kaki ibuku
ada lagu perkutut dan masa-lalu

yang jadi sajakku. Di dinding rumah,
ketika kau sedang sibuk belajar membaca
ada barisan pigura dan almanak

menafsir bisu pada angka 27.
Ketika aku berdo’a dengan kata-kata
yang paling lemah, sadarlah aku

yang paling rimbun ketimbang tahun-tahun
adalah sepasukan maut yang menjelma embun,
menjelma waktu dan sebaris rindu.

(2014)


Lampu

Aku masuki malam yang selembut parasmu
dan aku adalah kata-kata yang berdiam
di buku-buku. Di salah-satu ceritanya
ada kanak-kanak yang selalu berusaha

mengekalkan kenangan dengan seutas benang
bagi layang-layang yang khusuk membaca
langit merah sekedarnya. Aku adalah hujan
yang ingin sekali berkunjung ke rumahmu

dengan langkah-langkah sepi seperti puisi.
Ketika senja yang kausuka masih basah,
maut dan cinta adalah perumpamaan
sekian rahasia perabot-perabot rumahtangga

yang ditinggalkan ibunda. Tetapi,
sebelum lembab malam menyelinap
di sebalik pigura, aku suka sekali
menyimak srigunting dan riuh para gelatik

sebelum sunyi magrib jadi lengkap
bersama dingin angin bulan april.
Tiup, tiuplah sayang, dengan nafasmu itu
jika kau sudah mengantuk

seperti sebaris lagu di meja bacaku.
Sebab aku pun adalah juga embun
di hening sabtu yang serimbun dua matamu
dan rindu telah lama jadi waktu.

(2014)


Ziarah

Apa yang akan kau tulis, Hafiz, jika kau hidup
di jaman ini? Kata-kataku tidak lahir dari hening embun
tapi dari desing mesin dan serbuan iklan di televisi.

Kadang aku tak sanggup lagi mengenali
bahasaku. Sampaikan salamku kepada Attar
jika burung-burungnya singgah ke Tursina,

Makkah, atau Karbala. Di manakah
dapat kucium semerbak wangi lembah Kaf
dan Nun yang masyhur itu? Di dalam kalbu

ataukah di rintih do’a para pelacur? Aku baca
puisi-mu, Hafiz, dan membayangkan jalan sepi
yang kau lalui. Tapi dunia yang kujumpai kini

lebih lincah dari perumpamaan-perumpamaan
yang kau kisahkan dengan larik-larik ghazalmu.
Hujan dalam puisimu tidak sama dengan hujan

yang menulis kata-kata dalam sajakku.
Sampaikan salamku kepada Sa’adi
bagaimana ia akan menulis elegi di jaman ini?

(2014)


Sungai

Kebahagiaan tumbuh dengan sabar
seperti rumput disusu embun.
Lumut adalah perumpamaan usiaku
dan Tuhan kita sama, duhai sahabat,

meski acapkali kita berbeda paham.
Setiap hari kita berebut peran
sebagai Samiri yang pandai
dan sesekali sebagai Zakaria

yang ragu saat ayat difirmankan.
Benarkah, oh Tuhan, sebab hamba
bukan manusia yang tanpa cela
dan terbebas dari lupa.

Dan di Hira sang Rasul pun bertanya:
apa yang harus kubaca?
Aku pun bertanya, apa yang kaucari
duh penyair? Di jaman hingar bingar iklan

dan waktu yang hancur
di kotak-kotak televisi. Tak ada lagi
nubuat seperti bagi Musa di Tursina
atau mukjizat bagi Isa

di Lembah Jordan. Mulut kita kadang
tak lagi suci
saat meneriakkan asma-asma Tuhan
yang kudus dan sunyi.

Kebahagiaan barangkali, duh sahabat,
ada dalam dusta kita masing-masing.
Dan biarlah asma-asma Tuhan
hadir dalam sepi, seperti sajak ini.

(2014)

Sulaiman Djaya 



6 komentar:

  1. Apa ada konfirmasi jika puisi dimuat, trims

    BalasHapus
  2. Pengalaman saya sendiri tidak ada konfirmasi

    BalasHapus
  3. Maaf saya mengakui terlalu awam dalam proses mengenal sastra umumnya dan khususnya puisi.
    Saya mau bertanya tentang tipografi puisi yang acapkali menjadi perhatian kritikus dan penikmat.apakah tipografi tersebut memiliki makna tersendiri untuk puisi...?dan apakah tipografi adalah sesuatu yang konvensional...?saya mohon responya .karena saya betul2 kurang memahami

    BalasHapus
  4. boleh gak menulis puisi cinta?

    BalasHapus
  5. boleh gak menulis puisi cinta?

    BalasHapus
  6. boleh,asalkan pesannya dalam adn pemilihan diksinya bagus

    BalasHapus