Label

Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan

Album Sulaiman Djaya

 (Di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtyasaya Tahun 2008. Fotografer: Wan Anwar)
 (Di Taman Ismail Marzuki Jakarta Tahun 2011. Fotografer: Jafar Fakhrurozi)
 (Di Taman Ismail Marzuki Jakarta Tahun 2011. Fotografer: Jafar Fakhrurozi)
 (Di Kragilan, Serang, Banten Tahun 2013. Fotografer: Asep S. Bahri)
 (Di Kubah Budaya, Kota Serang, Banten Tahun 2013. Fotografer: Asep S. Bahri)
(Di Hotel Flamengo, Kota Serang, Banten Tahun 2014)

Peziarahan Terbesar di Dunia Sedang Berlangsung


Oleh Sayed Mahdi Al-Modarresi

Ini bukan ibadah Haji, atau “Kumbh Mela”-nya kaum Hindu. Ini adalah Arbain, hari ke-40 gugur syahidnya cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, Irak. Ini adalah perkumpulan manusia terbanyak di dunia, yang mungkin belum pernah Anda dengar. Jumlah peziarah yang datang jauh melampui jamaah Haji. Sejak jatuhnya Saddam 2003 hingga kini, jumlah peziarah terus meningkat. Arbain melampaui pawai manapun di dunia ini: tahun lalu, diikuti 20 juta orang, tahun ini diperkirakan 30 juta. Ini setara dengan 60% populasi Irak.

Lebih dari segalanya, Arbain menjadi unik karena terjadi di sebuah negara yang rawan karena keberadaan ISIS. Selain itu, meskipun Arbain adalah ritual kaum Syiah, yang ikut dalam pawai super akbar ini tidak hanya Syiah, melainkan juga Sunni, Kristen, Yazidi, Zoroastrian, dan Sabian. Mereka hadir di sana baik sebagai peziarah, maupun sebagai pelayan para peziarah (yang menyediakan berbagai fasilitas, termasuk makanan-minuman).

Ini bermakna satu hal: manusia, tak peduli asal dan warna kulitnya, memandang Hussein sebagai sosok universal, tanpa batas, dan simbol kemerdekaan dan kasih sayang.

Mengapa Anda tidak pernah mendengar hal ini, mungkin karena media lebih peduli pada hal-hal yang negatif dan berdarah-darah, dibandingkan hal-hal yang positif dan inspiring, terutama jika berkaitan dengan Islam. Demo anti-imigran di jalanan London, demo pro-demokrasi di Hong Kong atau demo anti-Putin di Russia, akan menjadi headline. Namun, berkumpulnya 20 juta orang yang menyerukan perlawanan atas terror dan ketidakadilan, bahkan tak terberitakan dalam running-text televisi.

Arbain memunculkan pertanyaan: bagaimana mungkin seorang lelaki yang terbunuh 1396 tahun yang lalu, sedemikian “hidup” hari ini dan membuat puluhan juta orang merasakan penderitaannya?

Saya pernah hadir dalam pawai ini, berjalan 425 mil antara kota pelabuhan Basra menuju Karbala. Ini perjalanan yang jauh bila menggunakan mobil, tak terbayangkan jauhnya bila menempuhnya dengan berjalan kaki. Total waktu yang diperlukan adalah dua minggu [dari Najaf 3 hr]. Orang-orang dari berbagai usia berjalan di tengah terik mentari di siang hari, dan dingin menusuk tulang di malam hari. Mereka melintasi jalanan yang kasar berbatu, melewati sarang-sarang teroris yang berbahaya.

Salah satu bagian dari peziarahan ini yang akan membuat semua orang tercengang adalah keberadaan ribuan tenda dan dapur darurat yang didirikan oleh warga desa-desa yang dilalui peziarah. Di tenda (disebut 'mawkeb') itu, semua orang boleh beristirahat, mendapatkan makan dan minum, menelpon ke luar negeri, bahkan tersedia juga popok bayi. GRATIS.

Dan yang lebih mencengangkan lagi, peziarah justru DIUNDANG untuk menerima segala pelayanan itu. Para pengurus tenda akan mencegat peziarah, dan memohon agar peziarah bersedia mampir sejenak di tenda mereka, dan menikmati pelayanan kelas raja: pertama kaki Anda akan dipijat, lalu Anda akan diberi makanan hangat, lalu Anda dipersilahkan tidur sementara pakaian Anda dicucikan dan disetrikakan. Semua gratis, tentu saja. Bukan hanya itu, mereka juga menjadi tameng keamanan, melindungi para peziarah dari serangan ISIS.

"Untuk menilai Islam, jangan liat aksi biadab ratusan teroris, tapi saksikan pengorbanan tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh puluhan juta peziarah Arbain," kata salah seorang pengelola Mawkeb. Sumber: http://www.huffingtonpost.co.uk/sayed-mahdi-almodarresi/arbaeen-pilgrimage_b_6203756.html  Diterjemahkan oleh:  Dina Yoelianti Sulaeman 


Sputnik Photography

All flying machines must have a wingspan no more than 10 meters and the maximum weight (not including pilot) must not exceed 150 kg. Photo: © SPUTNIK/EVGENIA NOVOZHENINA http://sptnkne.ws/5QT
 Moored nuclear submarines. Photo: © SPUTNIK/VITALIY ANKOV. 

The minimum range of the Topol-M is about 2,000 kilometers and the maximum range 10,500 kilometers. It is considered to have the highest accuracy of any Russian ICBM, with a CEP (circular error probable) of 200 meters. The Topol-M carries a single warhead with a 550-kiloton yield. Photo: Triumf S-400 anti-aircraft missile systems and Topol-M intercontinental ballistic missiles during a parade marking the 69th anniversary of the victory in the Great Patriotic War, on Moscow's Red Square. http://sptnkne.ws/4ZQ © Sputnik/ Alexander Vilf. 

The propelling system was developed by the Soyuz Federal Center for Dual-Use Technologies. It gives the missile a much higher acceleration than other ICBM types. They enable the missile to accelerate to the speed of 7,320 m/s (26,400 kmh). As a solid propelled missile, the Topol-M can be maintained on alert for prolonged periods of time and can launch within minutes of being given the order.
http://sptnkne.ws/4ZQ. Photo: An officer looks out of his armored vehicle with a Topol-M intercontinental ballistic missile launcher seen right before the parade rehearsal in Moscow, Russia, May 7, 2014. © AP Photo/ Ivan Sekretarev. 

The Russian Knights aerobatic display team performs at the Pushkin Military Airport during the 2015 International Maritime Defense Show in #StPetersburg. #Sukhoi #AirForce http://sptnkne.ws/4EB. Photo: © SPUTNIK/ IGOR RUSSAK. 

#Kamov Ka-27 (#NATO reporting name: #Helix) carrier-based naval #helicopter. #AirForce. © PHOTO: RUSSIAN HELICOPTERS. 

19th Anniversary of the October Revolution. Parade at Red Square, 1936. http://sptnkne.ws/3xP. © Photo: http://lumiere.ru/exhibitions/id-170/.

Ide Taman Mini (Kecil)



Kreasi dan budidaya taman telah sangat tua usia dan sejarahnya, di mana salah-satu dorongan manusia untuk menciptakan taman salah-satunya adalah untuk menghadirkan keindahan. Dalam sejarah peradaban ummat manusia, misalnya, kita mendengar kisah atau dongeng tentang keindahan Taman Babilonia dan juga taman-taman lainnya. Di Iran, sebagai contoh lainnya, makam-makam para pujangga dan para ilmuwan di-disain dengan citarasa dan bentuk taman. Singkat kata, tak diragukan lagi, kecintaan manusia pada taman memang pertama-tama karena dorongan untuk menghadirkan keindahan, selain belakangan banyak orang membuat taman di lingkungan rumah mereka dengan tanaman-tanaman yang dapat dikonsumsi dan untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga.


Islamic Wallpaper

 Warna-warni Merpati.
 Muslimah Berdo'a.
 Imam Ali bin Abi Thalib (as).
 Karbala.
 Abul Fadhl Abbas.

Iranian Military Motorcycles


Motorcycles and All-Terrain Vehicles (ATV)

Motorcycles are omnipresent within the Iranian military, almost defining their preference for fast, non-traditional tactics then for a conventional military. They function almost as modern-day dragoons. Note that this section refers to both two-wheeled bikes as well as 4-wheeled ATV’s, though the former are far more common.



Motor-bikes are deployed throughout the ground forces, in the marines, IRGCGF, and the IRIA. They are commonly deployed at the squad level in hunter-killer teams, such as with a team of 5+ bikes of two men each carrying RPG’s and assault rifles. Other organizations include mechanizing an entire squad or platoon, complete with rifleman, support gunners, and anti-air/tank soldiers. It’s also not uncommon to see a “swarm” of motor-bikes with 10-20 RPG’s and supporting rifleman. Sniper teams are also a common sight on motorbikes.



The exact type of motor-bike varies, though they are often commercial models, such as Honda, converted for military use. One point of note is that they are often unpainted and appear in their bright-red factory finish. One explanation for this might be that they just haven’t been painted yet or that it’s just laziness; another might be that it’s just another camouflage pattern. While this might seem counterintuitive, by blending in with the rest of the thousands of Iranian bikes on any major street, they are better allowing themselves to blend in with the environment they intend to fight in, the urban battleground rather then singling themselves out as a military target. Some videos of exercises actually show Basij and IRGC conducting military drills on motorcycles in a bustling cityscape, giving some indication on how they might be used in urban terrain.



In the war with Iraq, Iran used motorcycles in this manner to destroy Iraqi armor by running circles around the cumbersome tanks with their slow-to-traverse turrets. These tactics depended on the lack of infantry support for the armor, a situation that is unlikely to be the case with any ground battles against US or even GCC Arab states.



This brings up questions of their effectiveness in combat. To get a good idea, we have only look to Iran’s neighbor Afghanistan. In Afghanistan, the Taliban have a long history of using Honda motorcycles as transportation and to mount ambushes against ISAF/NATO and GOA forces. Even the US has taken to deploying motorcycles. The advantage to this is the maneuverability; geography in many parts of Iran, such as the Alborz and Zagros mountains, is similar to that in Afghanistan, and the small mobile motorbikes can go places a tank, APC or even a truck can’t, the same holds true on the opposite type of terrain, within Iranian cities with their twisting alleyways and congested buildings. Another advantage to these systems is that they’re smaller, and by this virtue they attract less attention and are easier to hide then any other vehicle.



Ultimately, as with so many other weapons, their effectiveness depends on their use. If used to set up ambushes and carry hunter-killer teams across cities or mountains the Iranians might have a deadly system, but if used to launch a charge across flatlands they would likely be mowed down by tanks or gunships.



Ranger and Samandar Tactical Vehicles

The Ranger (literally ‘Ranger’/ رنجر rather then the Persian word for ranger as one might expect) as well as the Samandar are light tactical vehicles that are comparable to the US DPV/FAV/LSV with the Samandar being a veritable copy in terms of configuration. Neither vehicle is reported to have entered serial production. Both types are built on a light sand-rail frame and emphasize off-road mobility and speed. Both have a crew of 3 and mount a machinegun. This however remains the only concrete details on the two vehicles.