Label

Puisi as Syafi’i untuk Imam Husain as



Tuanku (Imam Husain as), penghulu orang-orang merdeka
–wahai mu’jizat sejarah, wahai rahasia wujud
Wahai tuan yang menuntaskan kehausan jasad
–dahaga hati. Wahai tuan telah kau-korbankan jiwamu
demi syari’at yang agung ini, demi kemanusiaan.

Tuanku, sungguh orang-orang yang berduka atasmu
sangat merindu bertemu denganmu –mengharap
karamahmu. Engkau yang pemurah, dermawan dan mulia.
Sungguh engkau telah berderma dengan jiwamu
–betapa sangat mahalnya berkorban dengan keluargamu,
betapa mulia mereka.

Dengan potongan hatimu, wahai betapa pedih hatimu
–demi siapa itu wahai tuanku? Bukankah demi untuk
membebaskan makhluk (manusia) ini. Memang benar
engkau telah menazarkan jiwamu sebagai kurban
untuk memberi kehidupan kepada semua manusia.
Engkau rela kehausan demi memberi minum yang lain

–merelakan keluargamu terbelenggu rantai
padahal mereka adalah orang-orang merdeka.
Semua itu demi membebaskan para pecintamu
dengan mereka. Bahkan membebaskan belenggu
semua anak Adam yang tertawan.
Tuanku (Imam Husain as), wahai mata kehidupan

–wahai simbol kemuliaan, belum pernah
kami menyimpan kebaikan selain kebaikanmu
yang akan datang. Kemuliaanmu bagi jiwa-jiwa
yang berduka ini, yaitu syafa’atmu. Kepadamu,
wahai tuanku, kami persembahkan milik kami,
dan kami berharap engkau menerimanya.

Sumber: Dr. Abdurrahman Ghifari,
Qabs min Karamat al Husain, hal. 11-12



Tidak ada komentar:

Posting Komentar