Label

Tampilkan postingan dengan label Politik Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik Dunia. Tampilkan semua postingan

Bung Karno & Uni Soviet


oleh Alexei Drugov (pakar ilmu politik Rusia, pemerhati masalah Indonesia)

PERKATAAN terkenal berbunyi: orang-orang agung seperti bintang di langit –bahkan waktu bintang sudah mati, cahayanya masih lama terlihat orang. Oleh karena itu, perayaan ulang tahun orang agung bukan hanya alasan memperingatinya dengan hormat, tetapi juga mempelajari pengalamannya agar mendapat sesuatu yang penting untuk mengatasi masalah-masalah masa kini.

Kehidupan dan kegiatan Presiden Soekarno mewujudkan dua zaman dalam sejarah Indonesia, yaitu perjuangan kemerdekaan yang mengakibatkan proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, dan periode pembangunan negara Indonesia sampai tahun 1967, ketika Presiden Soekarno mundur dari jabatannya.

Soekarno mengatakan berulang kali, ide nasionalismenya berpadu dengan internasionalisme. Hal itu antara lain dibuktikan dengan jelas oleh sikap Soekarno terhadap Uni Soviet. Orang Rusia sampai saat ini mengingat dengan rasa terima kasih bagaimana pada tahun 1941 Soekarno yang pada waktu itu diasingkan ke Bengkulu, dalam artikelnya di koran Pemandangan menyatakan keyakinannya terhadap kemenangan Tentara Merah (Soviet) melawan pasukan Hitler.

Soekarno menulis, “Tentara Merah tidak hanya membela kemerdekaan negaranya sendiri, tetapi juga akan mendukung pembebasan seluruh umat manusia dari ancaman fasisme”. Pandangan Soekarnomencerminkan ideologi seluruh gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sikap Uni Soviet pada masa perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia ialah meyakinkan Soekarno bahwa Uni Soviet adalah kekuatan yang dapat diandalkan Indonesia dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya.

Oleh karena itu, pada awal tahun 1948 atas prakarsa Indonesia dicapai persepakatan pendahuluan mengenai terjalinnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet. Namun, karena beberapa peristiwa di Indonesia, realisasi persepakatan tersebut secara praktis baru mulai pada awal tahun 1950-an.

Pada musim semi tahun 1952 delegasi Indonesia berangkat ke Moskwa untuk ikut serta dalam Persidangan Ekonomi Dunia. Anggota delegasi antara lain Adam Malik, yang kemudian menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet, bahkan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden RI.

Pada bulan April tahun 1955 Uni Soviet menyambut baik Konferensi Negara-negara Asia dan Afrika di Bandung. Sambutan positif itu tampaknya dapat meyakinkan Soekarno bahwa persepsi Moskwa terhadap keadaan dunia setelah Perang Dunia II lebih pluralis daripada pandangan Barat.

Sikap negara-negara Barat terhadap Konferensi Bandung dan Gerakan Nonblok secara terus terang diucapkan oleh Menlu AS John Foster Dulles, yang menyebut sikap netral Indonesia sebagai “politik amoral”. Satu atau dua tahun kemudian sikap negatif itu diperlihatkan secara lebih keras pula dalam bentuk bantuan militer yang diberikan oleh pihak Barat kepada para pemberontak separatis di Sumatera dan Sulawesi.

Banyak pengamat menganggap Soekarno sebagai seorang romantik dalam politik. Soekarno sendiri tampaknya tidak keberatan atas persepsi itu. Namun, ternyata simpatinya dalam politik luar negeri ditentukan bukan oleh emosinya, melainkan pragmatismenya, yaitu kemampuannya melihat kepentingan nasional Indonesia dan mempertimbangkan apakah politik negara lain sesuai dengan kepentingan nasionalisme Indonesia.

Misalnya, seperti diketahui, pada akhir tahun 1950-an waktu Pemerintah Indonesia menyepakati perlunya modernisasi ABRI, awalnya penelitian mengenai pembelian persenjataan dilakukan di Barat. Dan hanya setelah ditolak negara-negara Barat secara nyata baru Jakarta mengarah ke Moskwa dan negara-negara Eropa Timur.

Kunjungan Soekarno ke Moskwa pada Agustus-September tahun 1956 menjadi peristiwa yang sangat penting artinya dalam sejarah hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Baru pada waktu itulah Indonesia memperoleh simpati di Uni Soviet. Setelah mengunjungi banyak daerah dan berpidato di depan ratusan ribu orang, Soekarno berhasil mengubah sikap masyarakat Uni Soviet tentang negara Indonesia yang dianggap jauh dan kurang diketahui, menjadi salah satu negara yang paling disukai orang Soviet.

Selain itu pula, Soekarno menemukan titik persamaan dengan tokoh-tokoh politik Soviet, pertama-tama karena pertimbangannya saling kepentingan secara pragmatis dan wajar.

Presiden RI menyadari, Uni Soviet bertujuan memperkuat kedudukannya di antara negara-negara sedang berkembang sebagai benteng anti-imperialisme, yang terus berusaha keras mempertahankan gagasannya dalam rangka politiknya menentang AS. Sementara itu Soekarno juga berkeyakinan, kesempatan memperluas pengaruh Soviet di Indonesia terbatas karena banyak faktor, termasuk perbedaan kebudayaan dan agama.

Keyakinan itu secara umum ternyata benar. Uni Soviet memberikan kepada Indonesia bantuan militer yang tidak ada bandingannya. Ribuan orang militer Indonesia diajari oleh instruktur-instruktur Soviet. Kerja sama ekonomi berkembang aktif pada waktu itu. Akan tetapi, semua hal tersebut tidak mengakibatkan kenaikan nyata pengaruh politik Soviet di RI, khususnya dalam ABRI. Namun, hal itu tidak mengecilkan arti rasa simpati orang biasa yang timbul antara para anggota AL, AU, pasukan tank dan roket, serta ahli sipil kedua negara itu.

Yang menjadi contoh perkiraan politik sangat tepat dari kedua pihak tersebut adalah kampanye Irian Barat. Baik Soekarno maupun pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev tidak mau agar keberadaan kapal dalam jumlah besar seperti kapal selam dan pesawat terbang militer Soviet di Indonesia melampaui rangka demonstrasi kekuatan saja hingga mendorong Belanda, sama dengan AS, untuk menyelesaikan masalah dengan cara politik. Uni Soviet dan Indonesia sepenuhnya saling mengerti mengenai hal itu.

Sebaliknya, dua tahun kemudian saling pengertian seperti itu gagal tercapai waktu Indonesia melawan pembentukan Federasi Malaysia. Soekarno menduga bahwa Uni Soviet berdasarkan taruhannya di “Dunia Ketiga” akan sedia memberikan kepada Indonesia bantuan sebesar kampanye Irian Barat. Akan tetapi, pada saat sengketa dengan Malaysia keadaan dunia berubah sehingga yang dianggap paling mungkin adalah campur tangan militer Barat yang berpihak kepada Kuala Lumpur. Tambahan lagi campur tangan seperti itu dapat mengakibatkan konflik besar.

Sekarang kita menghampiri perbedaan penting antara Moskwa dan Jakarta dalam sikap terhadap politik dunia yang mulai menonjol pada tahun 1962-1963. Soekarno menganggap bahwa pandangan Soviet menjadi lebih didominasi ide koeksistensi secara damai dan pencegahan perang nuklir. Beliau memandang sikap itu sebagai gejala kongkalikong antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dengan mempermainkan negara-negara sedang berkembang.

Khrushchev pada gilirannya dan kemudian Leonid Brezhnev (pemimpin Soviet sesudah Khrushchev) cukup beralasan mengira bahwa dengan menghilangkan ancaman nuklir mereka bertindak demi kepentingan seluruh umat manusia, termasuk Indonesia. Perbedaan pendapat tersebut menonjol, misalnya, dalam perundingan Soekarno dan Khrushchev di Moskwa pada bulan September tahun 1964.

Namun, kalau masalah itu dipandang dari segi masa kini maka intinya ternyata berubah. Dengan penggunaan bahasa modern, Soekarno khawatir atas munculnya model dunia bipolar sehingga kebanyakan negara akan dipengaruhi perkembangan hubungan antara dua “raksasa nuklir.” Sedangkan ide-ide Konferensi Bandung, yang dibaktikan Soekarno sampai hari terakhir, berarti penetapan hak politik semua negara untuk ikut serta secara berdaulat dalam menentukan tata dunia.

Demikianlah kalau saat ini dipertanyakan apa yang masih aktual dari warisan ide-ide Soekarno, maka seharusnya ditonjolkan ide dunia multipolar dan prinsip persamaan hak semua negara.

Konferensi Mafia Bretton Woods


Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2014)

Puluhan tahun silam –tepatnya di bulan Juli 1944, sejumlah delegasi dan orang-orang terhormat dari 45 negara berkumpul di Bretton Woods. Yang mereka rembug-kan di tempat itu adalah seputar persoalan tatanan dan rekonstruksi moneter paska perang –sementara perang itu sendiri diotaki oleh segelintir elite Zionis Internasional yang menciptakan krisis finansial sekaligus bisa meraup untung dengan menciptakan perang.

Dan terbukti, di Bretton Woods, rekayasa pengendalian moneter dan finansial global oleh mereka itu dimulai dan digagas –tentu dengan sangat serius. Di Bretton Woods itulah mereka sepakat mendirikan International Monetary Fund (IMF/Yayasan Dana Moneter Internasional) dan World Bank (Bank Dunia).

IMF dan Bank Dunia, dalam klaim mereka, adalah semacam “lembaga pemadam kebakaran” –meski tak sedikit yang malah tanpa sungkan-sungkan menyebutnya sebagai lembaga penyulut kebakaran dan biang krisis dan ketidakadilan yang sesungguhnya.

Saat ini –di sejumlah tempat di dunia, banyak masyarakat menilai IMF, sebagai contoh, hanya memperparah kemiskinan di Negara-negara berkembang dan meningkatkan ketidak-seimbangan dunia dan ketidak-adilan dalam skala global.

Pertanyaannya adalah apa dan bagaimana itu IMF? Secara sederhana, bayangkan Anda menjalani hidup dengan cara (tingkah laku ekonomi) yang melebihi (tidak sesuai dengan kapasitas) pendapatan Anda –sehingga Anda tidak mampu membayar kredit rumah atau mobil Anda. Lalu Anda pergi ke sebuah bank yang bersedia memberikan pinjaman –asalkan Anda berjanji membayarnya kembali sesuai jadwal yang ditetapkan dan disepakati.

Seperti sebuah bank yang memberi Anda pinjaman dengan sejumlah syarat inilah IMF bekerja –dan jika Anda tidak sanggup membayarnya, maka bukan tak mungkin alias lazimnya, mereka akan menyita asset dan kekayaan Anda. Nah, karena lingkup IMF adalah Negara sebagai klien-nya, maka terjadilah krisis dalam sebuah Negara.

Sementara itu, bila dilihat dari posisi dan kedudukan, IMF dan Bank Dunia adalah lembaga unilateral –atau sebutlah semacam oligarkhi dan korporatokrasi global untuk saat ini. Allan Meltzer, misalnya, menegaskan fakta bahwa IMF dan Bank Dunia bermarkas di Washington DC itu sendiri semakin memperbesar pengaruh unilateral dan campur-tangan bankir-bankir Amerika –yang kebetulan memang kelompok Zionis.

Dan pengaruh tersebut seringkali disalah-gunakan untuk memuluskan politik invasif Amerika –semisal membiayai perang demi penaklukan dan penguasaan sumber-sumber bahan mentah di Timur Tengah, semisal minyak.

Sedangkan untuk konteks Indonesia, di penghujung tahun 1990-an, Jeffrey Sachs menjuluki IMF sebagai wabah “Tipus Mary” bagi Negara-negara berkembang –yang ironisnya menyebarkan resesi dari satu Negara ke Negara lainnya. Lihat saja kasus Asia Tenggara di Tahun 1997.


Singkatnya, jika kita meminjam istilahnya Dreher dan Vaubel, IMF dan Bank Dunia tak ubahnya “perangkap ketergantungan” yang membuat Negara-negara yang masuk dalam jeratnya seperti tikus-tikus yang terkurung dalam jeruji atau kandang besi –hingga takkan sanggup menjadi Negara-negara yang mandiri dan kuat. 


One (Ordo Novus Empirium) Dollar & Impian Israel Raya


Kekuasaan kita adalah ketika mata kita mengawasi dunia, dan seluruh dunia terarah kepada mata uang kita”. Itulah inti misi simbolik One Dollar.  “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutang” (Amsal 22:7). Itulah rumus IMF dan Bank Dunia.

Cetakan uang satu dollar Amerika Serikat tidak pernah berubah dari cetakan pertamanya hingga sekarang. Tak lain karena kode-kode tentang tujuan akhir mereka tertuang semuanya dalam cetakan uang satu dollar ini. Marilah kita urai satu persatu!

PIRAMIDA: Lambang Piramida Giza, Menara Babel, Hierarki Kekuasaan. Jumlah bata pada Piramid adalah 13 baris (the lucky number) yang terdiri dari 72 bata.

SATU MATA: Menunjukan pengendalian dunia di bawah pengawasan mata Dewa (Osiris). Menurut pendapat Batt Robertson: adalah cahaya atau mata Dewa orang Mesir Kuno (Osiris), Tuhan yang selalu mereka kunjungi di sela-sela pertemuan rahasia yang diadakan para penganut Masuniyyah.

Jenderal William J. Car dari Amerika menjelaskan bahwa cahaya atau mata yang ada di atas piramida itu memancarkan cahaya ke segala penjuru arah, yang mengisyaratkan perwakilan atau aliansi yang didirikan oleh Adam Weishaupt dibawah lambang persaudaraan dengan tujuan menjaga rahasia organisasi dan memaksa manusia tunduk kepada undang-undang organisasi melalui penindasan.

ANNUIT COEPTIS: Limpahan karunia (favour our daring undertaking). Dua kata yang tertera di bagian atas lambang itu yang bermakna “Sesungguhnya kepentingan kita sarat dengan pelbagai keberhasilan”. Ia juga berarti “Kejayaan Milik Kita” atau “Kepentingan Penuh Keberhasilan” atau “Yang Agung Yang Beraja” atau juga berarti “Raja Istimewa” atau “Penutup (Segel) Orang Mesir”.

Makna-makna seperti itulah yang dimaksud oleh kata-kata yang ada pada lembaran One Dollar Amerika itu, yakni “Segel Terbesar Milik Raja Istimewa” yang menentukan asal-usul ketinggian dan pengaruh yang membentuk keperibadiannya itu dan dikembalikan ke negeri Mesir yang diakui oleh Dajjal (Samiri) sebagai permata di muka bumi ini.

Dua kata tersebut juga bisa ditemui dalam bahasa Perancis Le grand Coptis yang berarti Orang Qibti Terbesar. Sementara itu, Al-Qibti adalah “Orang Mesir” dan bukan ummat Kristiani. Anneoun juga berarti Lingkaran atau Al-Khatam yang bermakna segel. Segel itu adalah segel Dajjal (Samiri) yang mengaku dirinya sebagai dukun terbesar (dari keturunan) Mesir.

NOVUS ORDO SECLORUM: Secara harfiah bermakna “Tata Dunia Baru” atau “Tata Masyarakat Baru”. Pemikiran dan nama sebuah buku terkenal karangan Adam Weishaupt. Buku yang berisi konsep-konsep, doktrin serta teori tentang pemikiran global. Selesai disiapkan pada tanggal 1 Mei 1776.

THE GREAT SEAL: Bagian bawah bertulisan Inggris yang bermaksud Mohor Terbesar.

ONE: Merupakan singkatan dari Ordo Novus Empirium: “Pemerintahan Imperialis Baru”.

MDCCLXXVI: Tanggal yang ditulis dengan huruf-huruf Roman adalah tanggal diumumkannya secara resmi pembentukan organisasi rahasia mereka. Ini adalah perletakan asas pertama untuk secara mudah menduduki otak dunia, bumi dan kekayaannya. Tanggal itu bukanlah tanggal pengumuman dokumen Kemerdekaan Amerika.

Uang One Dollar merupakan hasil rancangan dari keempat pendiri negara Amerika Serikat: Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adams, dan Pierre du Simitiere.

Setelah jatuhnya komunis Uni Soviet, Amerika Serikat “menghadapi” perang baru. Perang yang mereka buat sendiri. Perang yang dimulai pada tanggal 9 September 2001. Rekayasa pertama mereka adalah penghancuran Gedung WTC yang dilakukan oleh kelompok teroris boneka alias buatan mereka sendiri.

Nama Perang tersebut adalah Perang Melawan Terorisme (War on Terrorism), yang dengan begitu Amerika Serikat dkk bebas-bebas saja menyerang Irak dan juga Afghanistan (dan kini Bank Sentral Irak dan Afghanistan akhirnya berhasil mereka kuasai melalui IMF dan World Bank), dan juga belakangan ini yang sedang mereka garap adalah SURIAH.

Dalam skala politik-ekonomi, sebagai contoh, intervensi Amerika di Timur Tengah bertolak dari masa kemunculan Amerika, sebuah masa di mana pemikiran imperialisme terbentuk dalam benak para politikus dan boss-boss perusahaan di Amerika yang saling mendukung dan membutuhkan.

Okupasi Timur Tengah sebagai sebuah kawasan yang kaya dengan sumber daya alam merupakan kunci bagi terwujudnya impian ini. Salah-satunya demi penguasaan bahan-bahan mentah yang nantinya untuk “menghidupi” industri dan, tentu saja, demi membiayai Amerika itu sendiri, selain demi memperkuat politik dan ekonomi.

Jadi, intervensi yang seringkali menggunakan kedok demokratisasi dan kebebasan tersebut hanya merupakan “cara” atau “modus operandi” untuk meraih target material: sumber daya alam dan minyak, yang ujungnya adalah ‘dominasi kendali’ dunia.

Jika kita sejenak saja mereview dari sisi historis, serangan-serangan perang, pengeboman, pembunuhan massal dan seluruh intervensi dalam masalah Timur Tengah oleh Amerika atau negara-negara perantara, berkaitan dengan dekade yang sangat jauh. Setidak-tidaknya, politik Amerika yang menjelmakan dirinya sebagai imperialis (Ordo Novus Empirium) sebagaimana kata ONE dalam mata uang dollar mereka, sesuai dengan simbol dan lambang Amerika itu sendiri, Elang Laut sang pemangsa yang rakus.

Tentu saja, mata uang sebagai “poros inti” pertukaran dan modus ekonomi adalah hal yang paling utama sebagai instrument kekuasaan: “Manusia harus memandang pada satu arah yaitu kekuatan mata uang, sebagaimana yang dilambangkan oleh mata uang satu Dollar Amerika”. Dan sebagaimana kita tahu, seluruh struktur perekonomian global telah dikuasai oleh kaum Zionis, semisal World Bank dan IMF. Hingga Prof. J. S. Malan, seorang ahli ekonomi dari Universitas Sao Paolo mengatakan:

“Setiap bangsa akan menanggung hutang yang berat dan mereka tidak akan mampu membayarnya sehingga mereka menjadi budak yang setia dan patuh terhadap perintah. Kekuatan IMF sangat absolut sehingga tidak akan ada satu negara pun yang mampu mendapatkan satu sen pun, kecuali atas persetujuan atau arahan IMF.”

Kekuasaan IMF adalah puncak dari tangan dan kekuatan gerakan Zionis yang ternyata mendapatkan inspirasinya dari Kitab Amsal, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutang” (Amsal 22:7) dan Kitab Kejadian: “Mereka harus menguasai seluruh ladang karena terlalu kelaparan yang ditanggung bangsa di muka bumi. Kaum Zion akan menjadikan seluruh bangsa merangkak dan mengemis kepada kekuasaannya” (Kejadian 47:13-20).

Barangkali kita lupa makna simbolik Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, yaitu 4 Juli. Pada saat itu dibentuk panitia untuk membuat mata uang Amerika (Dollar) yang terdiri dari: Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adams, dan Pierre du Simitiere yang semuanya adalah para anggota Komunitas Zion tingkat ke 33. Bahkan Thomas Jefferson adalah pengikut agama Desime yang menjadi pelopor lahirnya pemikiran Unitarian.

Pada saat itu, pemikiran Adam Weishaupt melalui bukunya yang berjudul Novus Ordo Seclorum telah merasuki seluruh jiwa para anggota Zion. Sebagai penghargaan kepada Adam Weishaupt, seorang tokoh sentral Zionis, mereka menyepakati bahwa lambang satu dollar Amerika memakai simbol-simbol Zion dan mencantumkan nama judul buku Weishaupt tersebut sebagai motto pada uang dolar Amerika.

Mereka tidak memilih mata uang dalam bentuk pecahan lima, sepuluh atau dua puluh karena pecahan satu dollar mewakili pemikiran “SATU DUNIA BARU”. Itulah sebabnya pada pecahan satu dollar tersebut sarat dengan falsafah Zionis. Barangkali di sini masih tepat untuk kembali mengutip Prof. J. S. Malan dalam tulisannya, New Age Reforms:

“Seluruh sumber daya alam dunia seperti monitor dan industri harus dikontrol sepenuhnya oleh ‘pemerintahan dunia’ karena dengan cara seperti ini, seluruh dunia hanya mempunyai satu sistem monitor yang pengawasannya di bawah satu badan yang tersentralisasi. Dengan cara seperti ini memungkinkan ‘pemerintahan dunia’ menjalankan kebijakannya untuk mengendalikan seluruh negara dan rakyat di seluruh dunia.” Dengan kata lain, dunia harus “tunduk” dan “menyembah” kepada dollar.

Dalam hal inilah, seluruh Lembaga Keuangan Internasional yang telah dirintis oleh Mayer Rothchild harus menunjukkan keperkasaannya dalam bidang keuangan. Pemilikan saham perbankan, perusahaan multinasional dan teknologi termasuk mikrochip harus dimiliki secara mayoritas oleh persaudaraan anggota Zionis.

Begitulah, Pakar Teologi Protestan Amerika, Batt Robertson, mengatakan bahawa lambang yang ada pada lembaran uang dollar Amerika itu sama sekali tidak berhubungan dengan kemerdekaan Amerika. Melainkan hanya penegas misi kaum Zion. Batt Robertson menyatakan bahwa yang merancang uang dollar Amerika itu adalah seorang bernama Charles Thompson, anggota Kongres dan seorang penganut Zionis tulen.


Sebelum itu, tepatnya pada 1848, Menteri Kehakiman Perancis yang anggota elit kelompok Masuniyyah tingkat ke-33 dan salah seorang tokoh Gerakan Zionis Sedunia menulis: “Hari ini telah dekat masanya, ketika Orchalma menjadi rumah sembahyang (Bait As-Solah). Di sini akan berkibar satu-satunya bendera Israel, dan akan naik di atas pantai-pantai yang sangat jauh”.

CIA & MOSSAD Aktor Intelektual Tragedi WTC 11 September 2001


Sebuah artikel yang dimuat di mingguan American Free Press mengungkap keterlibatan agen intelijen Israel, MOSSAD, dalam peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, Amerika. Berdasarkan artikel dan ulasan itu, yang mengejutkan adalah ketelibatan MOSSAD dalam serangan Black September tersebut melalui sepupu salah satu tersangka pelaku serangan 11 September.

Artikel itu menyebutkan bahwa Ziad al-Jarrah, salah seorang tersangka pelaku serangan 11 September memilki sepupu bernama Ali al-Jarrah yang sudah lama bekerja sebagai agen MOSSAD. Fakta ini membuktikan bahwa MOSSAD berperan, jika bukan mastermind alias aktor intelektual, serangan terorisme di WTC beberapa tahun silam itu.

Sebelum mingguan American Free Press, sejumlah media massa AS sudah banyak yang mengungkap dugaan keterlibatan Israel dalam serangan teroris 11 September. Surat kabar New York Times misalnya, sudah menurunkan laporan tentang Ali al-Jarrah yang berkebangsaan Libanon. Menurut New York Times, Al-Jarrah sudah bekerja sebagai mata-mata Israel selama lebih dari 20 tahun, dan Al-Jarrah sendiri kabarnya pernah mengakui bahwa ia pernah melakukan kegiatan mata-mata terhadap kelompok-kelompok pejuang di Palestina dan kelompok Hizbullah di Libanon, sejak tahun 1983.

New York Times juga menulis bahwa keluarga Al-Jarrah dikenal dengan keterlibatan mereka dalam aksi-aksi kekerasan. Masih menurut New York Times, keterlibatan Israel dalam serangan teroris tersebut bisa dilacak kembali dari informasi tentang lima orang Israel yang ‘tertangkap basah’ menunjukkan kegembirannya dengan berjingkrak-jingkrak dan saling menepukkan telapak tangan ketika pesawat dengan nomor penerbangan 11 dan 175 menghujam gedung World Trade Center di New York. Karena kelakuanya itu, aparat keamanan dikabarkan menangkap kelima orang Israel tersebut, tapi mereka dibebaskan secara diam-diam setelah 71 hari di penjara. Kelima orang Israel itu diduga sebagai agen Mossad.

Disebutkan pula bahwa setelah ada perintah dari Gedung Putih untuk menutup kasus tersebut, markas besar CIA langsung membuat keputusan untuk menutupi kasus ini agar tidak bocor sehingga tidak ada alasan untuk mengait-kaitkan Israel dalam serangan 11 September yang menelan korban jiwa sebanyak 2.970 orang tersebut.

Dugaan bahwa Mossad terlibat dalam serangan 11 September 2001 di AS itu juga pernah dilontarkan oleh mantan Perdana Menteri Italia, Francesco Cossiga. Menurutnya, serangan teroris 11 September adalah hasil kerja bersama antara CIA-Mossad. “Semua agen intelejen di AS dan Eropa tahu pasti bahwa serangan mematikan itu dirancang oleh CIA dan Mossad. Kedua lembaga intelijen itu juga membentuk opini sedemikian rupa sehingga negara-negara Arab yang menanggung tuduhan serangan teroris tersebut. CIA dan Mossad ingin mendorong kekuatan-kekuatan Barat untuk ikut serta dalam perangnya di Irak dan Afghanistan,” demikian Cossiga menyatakan.

Keterlibatan MOSSAD Israel dalam serangan keji itu makin santer setelah muncul informasi bahwa ketika serangan terjadi, seluruh orang Yahudi yang bekerja di gedung World Trade Center sudah diberitahu untuk tidak pergi kerja pada hari itu. Informasi ini diperkuat oleh laporan yang bocor ke publik, berisi laporan bahwa dua orang pegawai perusahaan Odigo, perusahaan telekomunikasi milik Israel menerima short message service (SMS) peringatan akan adanya serangan beberapa jam sebelum tragedi serangan ke gedung World Trade Center.


Perusahaan Odigo pula yang mengirimkan SMS berisi himbauan agar orang-orang Yahudi tidak usah pergi kerja pada tanggal 11 September 2001 dan lebih baik berdiam diri di rumah. Kantor Pusat Odigo sendiri, terletak hanya dua blok dari gedung World Trade Center. 


Akankah Perang Dunia Ketiga Bermula dari Suriah?



Perang Dunia-3 (PD-3) meskipun semua kita tidak menghendakinya –namun di lain pihak para penguasa unilateral yang haus dengan kekuasaan terhadap kawasan regional dan global justru telah menciptakan benih-benih terjadinya PD-3 dalam waktu dekat ini. Banyak sudah prediksi atau ekspektasi saat terjadinya PD-3 (peristiwa yang lebih mengerikan dari PD-1 dan PD-2). Ekspektasi tersebut bukan tanpa alasan –sebab dapat dibuktikan secara logis berdasarkan perkembangan situasi politik, militer dan pengaruh ekonomi Global yang terjadi saat ini.

Tak heran, kini di Suriah sikap Rusia dan China adalah berkomitmen saling mengisi "kekuatan" mereka agar potensi AS dan sekutunya menuju dominasi Globalisasi –yang lebih sering berupa imperialisme baru tersebut sedikitnya tidak semudah yang dibayangkan AS, NATO dan sekutu dekat AS. Beberapa waktu silam, contohnya, Iran, telah mengirimkan 15 ribu pasukan elit dari divisi Quds untuk membantu tegaknya pemerintahan Suriah di bawah rezim Bashar al Assad. Sementara itu, Rusia telah mengirimkan 36 kapal perang dan 120 pesawat tempur untuk Suriah –sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Kommersant. Tentunya pemerintah Rusia menolak memberikan kebenaran berita tersebut karena sama halnya menentang terang-terangan embargo senjata yang diterapkan oleh PBB dan Uni Eropa terhadap Suriah.

Sedangkan China, telah memberikan sinyal pada AS bahwa mereka memiliki hubungan dengan Suriah dari era Hafez al Assad (ayah Bashar al Assad). China berpendapat, Suriah adalah terminal dagang penting. Tentu China tidak akan melepas hancurnya Suriah begitu saja karena China melihat pemerintah Suriah yang baru nanti adalah berhaluan ke Barat (jika Bashar al Assad berhasil digulingkan Israel, Amerika dkk). Bersamaan dengan itu, Rusia telah menegur Perancis akibat terlalu keras dan "berlebihan" menentang Rusia dalam sikapnya terhadap Suriah. 

Negara di kawasan Asia lainnya, yaitu Korea Utara jelas beraliansi dengan Suriah. Menurut Fidel Castro, AS cepat atau lambat pasti akan menyerang Korut. Israel menduga bahwa Korea Utara telah memberikan bantuan penting pada program rudal Iran dan Suriah. Dan sebagaimana jamak diketahui, organisasi jongos teroris Al-Qaeda disusupkan ke Suriah untuk melakukan sabotase dan serangan terhadap legiun Iran dan Rusia.

Melihat fakta dan data di atas, maka kekhawatiran sejumlah kalangan akan terjadinya PD-3 bukan tanpa alasan –apalagi tak sedikit yang menebak-nebak bahwa PD-3 itu sendiri memang merupakan skenario yang dibuat oleh AS dalam program New World Order atau One World Government -pemerintahan Zionis Dunia (Daulah ad Dajjaliyah). Dengan program tersebut dapat dilihat eskalasi militer terjadi mulai dari Mediterania (Libya, Suriah, Lebanon, Iran) sampai ke Laut Cina Selatan (RRC, Korut dan Rusia) telah menjadi target AS untuk mewujudkan pemerintahan satu dunia (Global) melalui pengaruh politik dengan cara perang –dan tentu juga dengan penguasaan lembaga-lembaga finansial dan per-bank-an dunia.

Kenapa Vladimir Putin Tidak Disukai Uni Eropa, NATO, dan Amerika?





Vladimir Putin mulai bertugas sebagai pejabat presiden sementara pada tanggal 1 Januari 2000. Kemudian pada tanggal 26 Maret 2000 diadakan pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden tersebut, Vladimir Putin mendapatkan 52,94 persen suara.

Ia kemudian dinobatkan sebagai Presiden Rusia secara resmi pada tanggal 7 Mei 2000. Presiden Rusia yang kedua ini memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaan Rusia seperti pada zaman Uni Soviet.

Ia mengganti lagu kebangsaan Rusia yang berjudul "Patriotiskaya Pesn" dengan lagu kebangsaan Uni Soviet "Gimn Sovetskogo Soyuza" yang diganti liriknya menjadi "Gimn Rossiyskaya Federatsiya".

Putin juga menahan pengusaha minyak Yukos Mikahil Khodorovsky dan menjual sahamnya, serta menasionalisasikan beberapa perusahaan asing.

Pada tahun 2004, ia terpilih kembali untuk masa jabatan yang kedua kali. Selain sibuk berbenah di dalam negeri, Rusia pun mulai memperhatikan masalah-masalah luar negeri. Seperti di Palestina, saat wilayah itu diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya akibat kemenangan Hamas, Rusia justru mendekati dan merangkul Hamas.

Rusia juga menjalin hubungan erat dengan Iran yang merupakan rival Amerika sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang digerakkan Muslim Syi’ah sukses dengan gemilang.

Di negara (Iran) tersebut, Rusia membangun pusat tenaga nuklir pertama di Bushehr. Selain itu, pemerintah Rusia juga mulai mendekati negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam untuk bekerja sama di berbagai bidang.

Walaupun Uni Soviet sudah runtuh, Rusia di bawah pimpinan Putin (yang merupakan negara pecahan terbesar Uni Soviet) memang tidak bisa dianggap remeh oleh Blok Barat (yang terdiri dari Israel, Amerika, Uni Eropa, dan NATO).

Singkatnya, Putin adalah kebalikan 180 derajat dari Gorbachev yang mesra dengan Barat, dan karena itulah, Vladimir Putin kurang disukai Barat, terutama sekali saat ini, peran Rusia di Timur Tengah yang pro Negara-negara Muslim (Syi’ah) yang tidak mau tunduk dengan Barat (Amerika).